Dahulu masa-masa kecil gw terlampau sulit bagi anak seumuran gw saat itu.
Saat itu gw adalah anak tunggal yang sering di tinggal kedua orangtua kerja dengan kepadatan aktifitas mereka. Tak ada pemberian kasih sayang dan perhatian saat itu. Gw pun sering menjadi seperti seorang bayi yang diasuh oleh baby sitter. Namun baby sitter
selalu berganti-ganti karena mereka tidak betah mengasuh gw yang kenakalannya tingkat tinggi.
Apakah ada rasa kesepian tingkat tinggi pada saat itu? Tampaknya sering terlintas dalam pikiran gw.
Akhirnya orangtua gw menitipkan gw kepada sebuah keluarga, dimana mereka adalah tetangga gw sendiri yaitu kelurga Darsono. Bapak dan Ibu Darsono memiliki tiga anak, dua anak laki-laki
dan satu anak perempuan
. Anak pertama bernama Aris, anak kedua bernama Jati dan anak terakhir mereka bernama Bernard. Saat itu umur mereka sudah pada dewasa, sehingga kehadiran gw pada saat itu bermakna kedatangan adik baru di keluarga mereka.
Awalnya gw risih dengan lingkungan baru gw saat itu, namun setelah beberapa lama keadaan membaik dan menjadi hari-hari yang bermakna setiap detiknya. Canda tawa, pertengkaran, pembelajaran, dan lika-liku hidup baru ditemukan di keluarga mereka. Ada rasa nyaman di hidup gw saat itu, serasa memiliki keluarga baru yang menyayangi dan memperhatikan gw.
Hingga beberapa bulan dan tahun pun orangtua gw tetap sibuk dengan pekerjaan mereka, tak ada perhatian lebih dari mereka. Ketika mereka pulang kerja, di saat itu pula gw sudah tertidur pulas di rumah keluarga Darsono. Terkadang gw di biarkan menginap di rumah keluarga Darsono, namun terkadang pula orangtua gw membawa gw pulang kerumah.
Dirumah pun gw sudah terbiasa dengan memiliki kamar sendiri dan tidur sendiri dimulai saat gw duduk di TK nol besar. Jadi semua serba mandiri dan sering tak luput dari kenakalan anak kecil yang butuh kasih sayang dari kedua orangtunya.
Setiap pagi, gw sekolah diantar oleh Mama atau Papa sebelum mereka berangkat kerja. Untuk pulang sekolah gw selalu pulang sendiri, berjalan kaki menuju rumah yang masih satu komplek dengan sekolah gw dulu. Sesampainya di rumah, pembantu sudah menyiapkan makan siang, namun entah mengapa gw selalu memilih kabur lewat pintu belakang menuju rumah keluarga Darsono. Gw biasa memanggil Bapak dan Ibu Darsono dengan sebutan Pakde dan Bude.
Sesampainya di rumah, gw langsung ganti pakaian dan kabur lewat pintu belakang menuju rumah Bude Darsono. Alhasil gw sering sekali makan siang dengan Bude Darsono, dan makanan andalan gw yang di hapal oleh Bude Darsono adalah Ayam bumbu kecap bagian paha ayam. Bude Darsono pun selalu menyisakan paha ayam buat gw makan siang. Pada waktu itu, mas Aris dan mba Jati sudah kerja, makanya setiap siang mereka tidak pernah ada di rumah. Sedangkan mas Bernard pada saat itu belum mendapat kerja, hingga gw pun sering sekali bermain dengan dia.
Percaya tidak percaya, semua mainan dan beberapa setelan baju banyak yang berpindah ke rumah keluarga Darsono. Semua tampak sudah dipersiapkan buat gw saat itu. Hingga terkadang gw bermain di rumah mereka sampai larut malam, sambil menungggu Pakde Darsono pulang kerja. Ternyata gw lebih senang menanti kedatangan Pakde Darsono dari kantor dibandingkan menantikan kedatangan kedua orangtua gw sendiri untuk menjemput gw pulang.
Sepulang dari sekolah dulu, biasanya gw makan siang di rumah Bude Darsono dan dibiarkan main dengan anak-anak komplek 1 blok di perumahan gw dulu. Beberapa teman kecil yang sering mengisi hari-hari gw saat itu ada Dimas (seumuran), Yudha ( 1 tahun diatas gw), Puspa ( 1 tahun dibawah gw), Evi (beberapa tahun diatas gw), Aris (seumuran), dkk. Mereka sering mengisi hari-hari gw untuk bermain, dan setelah gw puas bermain dengan mereka gw langsung pulang, pulang ke rumah Bude Darsono.
Hari-hari gw di bagian dari keluarga Darsono, sering memiliki makna yang berarti sampai detik ini. Dan sering membuat gw menangis merindukan mereka. Gw sayang dengan keluarga Darsono, gw sayang mereka yang telah mau menyayangi gw di saat kedua orangtua gw melupakan gw untuk beberapa saat.
Gw sebagai anak tunggal, sangat merasakan kesepian pada saat itu. Disaat gw membutuhkan kedua orangtua gw, mereka tidak ada. Dan ketika gw melakukan sebuah kesalahan, mereka hanya marah dan mencaci gw. Kehidupan sesungguhnya terasa lebih berat justru dengan kedua orangtua gw.
Dulu dan bahkan sampai detik ini, gw adalah anak yang tomboy. Bahkan semua mainan berbau mobil-mobilan remote control dan robot-robotan. Pernah Papa memberikan sebuah boneka, alhasil boneka itu malah gw bakar dengan mainan kembang api. Suatu saat gw pernah minta dibelikan sebuah mainan pistol-pistolan yang memakai peluru bulat kecil di zaman itu. Namun Papa tidak mau membelikan, gw pun menangis karena pada zaman itu semua teman laki-laki gw sudah punya mainan tersebut. Tanpa pikir panjang gw langsung ke rumah Pakde Darsono sambil menangis dan bercerita ingin sekali memiliki mainan tersebut. Dan pada detik itu pula Pakde Darsono memboncengkan gw naik sepeda motor membeli mainan pistol-pistolan tersebut ke tukang mainan. Senangnya bukan main bisa memiliki pistol-pistolan tersebut. Gw pun lantas bermain dengan teman atau bahkan dengan mas Aris/ mas Bernard.
Hidup gw penuh di isi dengan hari-hari bersama keluarga Darsono. Hingga akhirnya Papa membeli rumah baru, namun masih satu komplek. Kami pindah ke blok lain yang rumahnya sedikit lebih besar dari rumah yang lama. Awalnya gw berpikir ini bukan akhir dari kehidupan gw dengan keluarga Darsono. Tapi gw salah, ternyata keluarga Darsono juga pindah rumah. Bahkan benar-benar pindah keluar dari komplek tersebut, mereka pindah ke Tangerang. Gw pun sedih melihat kenyataan tersebut, dan di waktu yang sama Mama hamil dan gw pun akan memiliki adik baru. Setelah sekian lama selama 9 tahun gw hidup sendiri menjadi anak tunggal, akhirnya gw akan segera memiliki adik. Tepat pada saat Mama mengandung adik gw itu, Mama keluar dari pekerjaannya dan memutuskan menjadi Ibu rumah tangga. Awalnya gw senang dengan keputusan Mama, tapi tampaknya tidak untuk setelahnya. Karena yang ada Mama malah memberikan sebagian perhatiannya untuk adik baru gw itu. Tidak untuk gw yang telah lama dilupakan untuk diberikan sedikit pernyataan kasih sayang.
Gw tetap merasa sendiri dan terkadang merindukan kehadiran keluarga Darsono di tengah-tengah kesepian. Tapi mustahil bagi gw untuk bertemu dengan Bude Darsono dan semuanya. Karena jarak tempuh yang terlalu jauh untuk bisa di jangkau oleh anak berumuran 12 tahun. Iya sekitar umur 12 tahun semua berubah, tak ada lagi kehadiran keluarga Bude Darsono dan lainnya. Tak ada lagi mas Bernard buat bermain kembang api. Tak ada lagi mba’ Jati yang mengajari gw belajar. Tak ada lagi mas Aris dan mas Bernard yang sering bermain gitar mengiringi gw menyanyi lagu “balonku “. Tak ada lagi Pakde Darsono yang selalu bertanya tentang sekolah gw.
Sampai beberapa tahun setelah gw beranjak dewasa, gw mendengar bude Darsono sakit dan di rawat di RS. Gatot Soebroto. Gw yang sudah lama tidak bertemu dengan beliau, tampak canggung menjenguk bude dan melihat kehadiran semuanya. Dan tampaknya gw terlalu bodoh dan menyesal, karena waktu itu tidak di manfaatkan dengan baik untuk berlama-lama di dekat bude Darsono. Beberapa hari setelah gw menjenguk bude Darsono di rumah sakit, gw mendengar kalau bude akhirnya tiada dan meninggalkan kami semua disini. Gw syok, tapi tidak tahu berbuat apa. Dan sampai detik ini gw belum sempat ke makam nya bude Darsono, alhasil gw sering merindukannya. Sangat sering….
Beberapa tahun kemudian, kembali Pakde Darsono yang meninggalkan kami disini. Pakde meninggal di kantornya karena serangan jantung. Gw dan Mama kaget mendengarnya, tapi lagi-lagi gw belum sempat ke makamnya. Makam mereka terlampau jauh untuk bisa berlama-lama disana. Kedua makam beliau ada di Tangerang.
Sampai detik ini, di saat gw merasa sedih dan kesepian selalu mengingat Bude dan Pakde Darsono. Gw sayang mereka, bahkan melebihi rasa sayang gw ke orangtua gw sendiri. Percaya tidak percaya tapi itulah kenyataan. Sudah beberapa kali gw memimpikan Bude Darsono, tampaknya Bude juga merindukan gw disana. Di sisi-Nya InsyaAllah Bude dan Pakde merasa damai. Amin
I hope u rest in piece Mr. and Mrs. Darsono. I always miss you until now.
